Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia

Merespons Anak yang Mengalami Pelecehan Seksual!

Oleh: Dewi Minangsari, Konselor

Suatu hari seorang guru taman kanak-kanak menelepon dan mengatakan, seorang bocah yang berumur empat tahun vaginanya dimasuki obeng. Saya sarankan untuk memeriksakannya secara hati-hati agar anak tak takut dan membicarakannya dengan psikolog.

Ketika dibawa ke dokter, tak ada tanda yang memperliharkan hal itu. Lalu, saya bertanya, bagaimana kasus ditindaklanjuti, jawaban yang saya terima adalah, “Tidak apa-apa kok”. Tampaknya saya tak dapat terlalu berharap. Saya bisa memahami mereka, tetapi resah terhadap nasib si kecil.

Kita kerap tidak siap menerima kenyataan pelecehan seksual terhadap anak. Bahkan, kalau jujur, meski kejadian itu menyentak kesadaran, kita sukar menerima kenyataan itu.

Siapa yang mau membayangkan seorang anak umur empat tahun dipaksa melakukan oral seks oleh pamannya sendiri? Untuk melindungi hati dari kisah horor tersebut, kerap orang dan membaayangkan, "Ah, andai pelecehan itu sungguh terjadi, pastilah bukan di kota ini,” atau “Itu kan hanya menimpa kalangan tertentu, bukan seperti kita-kita ini."

Semua itu tidak benar!

Pelecehan seksual terjadi di kota kita, di kampung kita, di dalam keluarga kita, bahkan di tempat yang dianggap kental nilai religiusnya, seperti di lingkungan gereja atau pesantren.

Syukurlah, media kini semakin peduli, tetapi perlu disertai kesiapan dari pihak kita untuk menyikapi. Kita perlu merespons secara bijak ketika mendengar ungkapan anak mengenai pelecehan yang dialaminya.

Inilah langkah awal yang penting. Jika respons kita salah, pelecehan tak akan pernah diungkapkan lagi dan anak-anak kita semakin menderita. 

Tanda terjadi pelecehan seksual

Patricia A Moran dalam buku Slayer of the Soul, 1991, mengatakan, menurut riset, korban pelecehan seksual adalah anak laki-laki dan perempuan berusia bayi sampai usia 18 tahun. Kebanyakan pelakunya adalah orang yang mereka kenal dan percaya.

Gejala seorang anak yang mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas. Ada anak-anak yang menyimpan rahasia pelecehan seksual yang dialaminya dengan bersikap “manis” dan patuh, berusaha agar tidak menjadi pusat perhatian.

Meskipun pelecehan seksual terhadap anak tidak memperlihatkan bukti mutlak, tetapi jika tanda-tanda di bawah ini tampak pada anak dan terlihat terus-menerus dalam jangka waktu panjang, kiranya perlu segera mempertimbangkan kemungkinan anak telah mengalami pelecehan seksual.

Tanda dan indikasi ini diambil Jeanne Wess dari buku yang sama:

Balita

Tanda-tanda fisik, antara lain memar pada alat kelamin atau mulut, iritasi kencing, penyakit kelamin, dan sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa merupakan indikasi seks oral.

Tanda perilaku emosional dan sosial, antara lain sangat takut kepada siapa saja atau pada tempat tertentu atau orang tertentu, perubahan kelakuan yang tiba-tiba, gangguan tidur (susah tidur, mimpi buruk, dan ngompol), menarik diri atau depresi, serta perkembangan terhambat.

Anak usia prasekolah

Gejalanya sama ditambah tanda-tanda berikut:

Tanda fisik: antara lain perilaku regresif, seperti mengisap jempol, hiperaktif, keluhan somatik seperti sakit kepala yang terus-menerus, sakit perut, sembelit.

Tanda pada perilaku emosional dan sosial: kelakuan yang tiba-tiba berubah, anak mengeluh sakit karena perlakuan seksual.

Tanda pada perilaku seksual: masturbasi berlebihan, mencium secara seksual, mendesakkan tubuh, melakukan aktivitas seksual terang-terangan pada saudara atau teman sebaya, tahu banyak tentang aktivitas seksual, dan rasa ingin tahu berlebihan tentang masalah seksual.

Anak usia sekolah

Memperlihatkan tanda-tanda di atas serta perubahan kemampuan belajar, seperti susah konsentrasi, nilai turun, telat atau bolos, hubungan dengan teman terganggu, tidak percaya kepada orang dewasa, depresi, menarik diri, sedih, lesu, gangguan tidur, mimpi buruk, tak suka disentuh, serta menghindari hal-hal sekitar buka pakaian.

Remaja

Tandanya sama dengan di atas dan kelakuan yang merusak diri sendiri, pikiran bunuh diri, gangguan makan, melarikan din, berbagai kenakalan remaja, penggunaan obat terlarang atau alkohol, kehamilan dini, melacur, seks di luar nikah, atau kelakuan seksual lain yang tak biasa.

Bagaimana jika anak buka rahasia?

Jagalah, jangan sampai anak terkejut oleh respons Anda.

Jika anak membuka rahasia, penting menyadari reaksi Anda dan anak itu sendiri. Anda perlu tahu apa yang mesti dilakukan. Mendengar apa yang dialami  anak mungkin kita merasa marah, terkejut, dan bingung. Semua itu adalah reaksi yang normal untuk Anda. Tetapi, Anda harus menjaga jangan sampai anak terkejut oleh respons kuat Anda.

Jika Anda dikuasai perasaan Anda sendiri, bicaralah kepada rekan yang Anda percayai. Kalau Anda merasa tak mampu berbicara dengan si anak, minta tolong ahli untuk mengolah perasaan Anda sendiri dan memintanya berbicara dengan si anak.

Percaya apa yang dikatakan anak.

Ketika anak-anak membuka rahasia pelecehan yang dialami, hampir semua dipastikan mengandung kebenaran. Mereka kadang mengatakan sedikit apa yang terjadi untuk melihat bagaimana reaksi kita. Kalau anak tampak kacau dan ceritanya tak logis, itu wajar. Perlihatkan kepada anak bahwa menceritakan hal itu adalah perbuatan benar.

Jangan desak anak untuk menceritakan detail pengalamannya.

Anak harus diyakinkan bahwa dia tak bersalah. Hal ini dalam kenyataan tak mudah melakukannya karena anak kerap menganggap dirinyalah penyebabnya.

Clara (bukan nama sebenarnya, 12) selama bertahun-tahun dijadikan obyek seks oleh ayahnya sendiri. Dalam konseling, kalimat yang berulang-ulang dikatakannya adalah, “Pastilah ada yang salah pada diriku sampai Bapak tega melakukannya kepadaku."

Berhati-hatilah, jangan perlihatkan ekspresi marah Anda terhadap pelaku.

Sebaiknya kita membedakan antara orang dan kelakuannya.

Steve (bukan nama sebenarnya, 12) dalam sesi konseling di sekolah mengatakan, dia dilecehkan kakeknya sendiri. Steve membuka rahasia ini karena baru bertengkar dengan kakek. Tanpa pikir panjang, si konselor memperlihatkan kemarahannya kepada si kakek. Steve yang terkejut oleh reaksi itu segera meninggaikan ruang dan menghilang. Malam hari ia ditemukan di belakang sekolah sambil menangis tersedu-sedu, ia mengatakan, dia sangat cinta kepada kakek.

Jika berbicara dengan anak, gunakanlah bahasa anak, jangan meletakkan kata-kata kita kepada anak.

Persepsi kita kerap berbeda dengan anak. Ketika Yuli (bukan nama sebenarnya, 3)mengatakan “bokong", yang dimaksudkannya adalah vaginanya. Susi (bukan nama sebenarnya, 4) bicara tentang boneka kura-kura yang dimainkannya di kamar mandi, padahal yang mau dikatakannya adalah penis pamannya.

Perlihatkan kepada anak kesungguhan Anda untuk mendukungnya.

Pelecehan seksual anak adalah tindak kriminal. Di sini tidak berlaku hukum kerahasiaan. Katakan kepada anak bahwa Anda akan menyampaikan cerita itu kepada orang lain demi keselamatan anak. Jangan buat janji untuk merahasiakannya. Pastikan anak merasa aman.

Akhirnya, tidak berbuat apa-apa ketika mendengar pelecehan terjadi adalah salah. Anak-anak mempunyai hak untuk tumbuh aman dan sehat. Sebagaimana judul bukunya, Slayer of the Soul, Child Sexual Abuse and The Catholic Church, Stephen J Sossetti dengan tepat mengatakan, dampak pelecehan seksual pada anak adalah membunuh jiwa. Masalah ini tidak hanya urusan para konselor dan terapis, melainkan kita semua. Kepekaan kita atas tanda-tanda pelecehan seksual dan tahu bagaimana meresponsnya kiranya akan sangat membantu ke arah berhentinya pelecehan.

sumber: Kompas Online, Senin, 03 Januari 2005